• Sen. Mar 4th, 2024

Sri Purnomo, Alasan Salak Pondoh di Sleman Harus Dikembangkan

Sleman, Buletinsleman.Com

Perkebunan salak di wilayah Kabupaten Sleman memiliki potensi yang sangat besar. Bahkan sejak tahun 2017 lalu, salak pondok telah membanjiri pasar domestik dan diekspor hingga ke ke Kamboja.

Daerah penghasil salak pondoh di Sleman berada di Kapanewon Turi, Tempel dan Pakem. Luas kebun salah di Sleman mencapai 3.000 hektare yang digarap 34 kelompok petani.

Namun, seiring perkembangan industri pertanian, yang aktif tinggal 1.500 hingga 2.000 hektar saja. Bahkan hanya ada sekitar 500 hektare yang saat ini dianggap menghasilkan salak yang bagus.

Calon Anggota DPR RI Dapil DIY, Sri Purnomo menilai kondisi perkebunan salak pondoh di Sleman memang harus mendapatkan perhatian serius. Pasalnya, salak pondoh telah menjadi ikon sebagai buah asli dari DIY khususnya di Kabupaten Sleman.

“Sangat disayangkan jika salak pondoh yang sudah punya potensi ini tidak digarap dengan serius. Waktu saya memimpin Sleman dulu, salak pondoh sudah bisa impor sampai kamboja,” ungkap Sri Purnomo melalui keterangan tertulisnya, Kamis (25/1).

Sri Purnomo tidak memungkiri adanya penuruan produktivitas salak yang mencapai 5,26 persen pada tahun 2022. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti alih fungsi lahan salak, baik untuk tanaman hortikultura harga tinggi seperti cabai, maupun alih fungsi lahan untuk perumahan.

Menurutnya, pemerintah bersama stakeholder terkait harus terjun memberikan perhatian khusus guna mengembangkan salak pondoh. Problematika yang dihadapi para petani tersebut harus bisa ditangkap dan diterjemahkan dalam bentuk program dan kebijakan.

“Tentu saja persepnya harus disatukan, apa yang menjadi masalah petani ini harus diurai. Nantinya pemerintah dan stakeholder terkait termasuk diatasnya dapat memfasilitasi problem yang ditemukan itu,” terang Sri Purnomo.

Selain produktivitas, dilanjutkan Sri Purnomo potensi wisata petih buah salak pondoh langsung dari batangnya juga perlu dikembangkan sebagai wisata agrowisata.

Selama ini wisata agrowisata itu sudah berjalan, namun masih perlu dikembangkan lagi agar semakin menarik minat wisatawan.

“Seperti wisata petik salak, wisata itu sudah jalan sejak dulu. Namun memang masih belum ramai seperti tempat wisata lainnya. Ini masih bisa dikembangkan dengan strategi dan pendekatan yang benar,” pungkas Sri Purnomo.

Tinggalkan Balasan