Tempel, Buletinsleman.Com
Suasana hangat penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan Halal Bihalal Trah Kromo Pawiro yang digelar pada Ahad (5/4/2026) di Taman Merdiko, Merdikorejo, Tempel, Sleman. Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini dihadiri sekitar seratus anggota keluarga besar dari berbagai krandah (garis keturunan), mulai dari Krandah Mbah Pawiro, Mbah Muh, Mbah Dulah, Mbah Hadi, Mbah Sis, hingga Mbah Wiryo.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga besar yang tersebar di berbagai wilayah. Sejak siang hari, para peserta tampak antusias hadir, saling bersalaman, bermaafan, dan bertukar kabar dalam suasana yang penuh keakraban.
Anton S selaku pengurus menyampaikan bahwa Halal Bihalal ini rutin digelar setiap tahun sebagai upaya menjaga nilai-nilai kekeluargaan lintas generasi. “Kegiatan ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana memperkuat ukhuwah dan mengenalkan sejarah keluarga kepada generasi muda,” ujarnya.
Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan ikrar Syawal oleh M Farid diikuti seluruh peserta dengan penuh kekhusyukan.
Momentum Syawalan tidak sekadar menjadi tradisi tahunan berupa halal bihalal, tetapi memiliki makna mendalam sebagai kelanjutan dari spirit Ramadhan. Hal tersebut disampaikan Ustadz Suyatno, S.Ag dalam sebuah kajian yang menekankan pentingnya bersegera dalam meraih ampunan Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.
Mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 133, ia menjelaskan bahwa umat Islam diperintahkan untuk bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga tersebut dipersiapkan bagi orang-orang bertakwa, yakni mereka yang gemar menafkahkan harta, mampu menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain.
“Kalimat wa sāri‘ū itu perintah untuk berlari, bersegera. Artinya setelah Ramadhan, kita tidak boleh kendor. Justru harus semakin cepat dalam amal saleh,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah menjadikan Ramadhan sebagai puncak ibadah, namun setelah itu mengalami penurunan signifikan. Padahal, esensi Ramadhan justru sebagai titik awal untuk membangun konsistensi dalam beribadah sepanjang waktu.
“Ramadhan itu bukan garis finish, tapi garis start. Syawalan adalah bukti apakah kita mampu istiqamah atau tidak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Suyatno menjelaskan bahwa makna maghfirah dalam ayat tersebut tidak hanya terbatas pada hubungan vertikal antara hamba dengan Allah, tetapi juga mencakup dimensi sosial antar sesama manusia. Tradisi halal bihalal dalam Syawalan menjadi sarana penting untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan sosial.
“Di sinilah pentingnya Syawalan. Kita membersihkan dosa kepada Allah sekaligus menyelesaikan dosa sosial dengan saling memaafkan,” katanya.
Dalam sambutannya, perwakilan sesepuh keluarga Hj. Sunarti menekankan pentingnya menjaga persatuan dan nilai gotong royong di tengah perkembangan zaman. “Jangan sampai kita kehilangan jati diri sebagai keluarga besar yang menjunjung tinggi kebersamaan. Halal Bihalal ini menjadi pengingat bahwa kita berasal dari satu akar yang sama,”
303 total views, 20 views today
