• Kam. Apr 23rd, 2026

UMY Dorong Kemandirian Pangan melalui Pengolahan Limbah Kotoran Ayam di KWT Bukle Turi

Turi, Buletinsleman.Com

Guna mendukung kemandirian pangan masyarakat Program Pengabdian Kepada Masyarakat tahun 2025/2026 yang digelar oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mendorong pemanfaatan limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Bukle Klegung, Donokerto, Turi, Sleman, pada Sabtu (18/4/2026).

Program ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP dari Program Studi Agroteknologi serta Dr. Septi Nur Wijayanti, S.H., M.H. dari Program Studi Ilmu Hukum.

Dalam pemaparannya, Septi Nur Wijayanti menyoroti pentingnya pengelolaan limbah peternakan ayam yang selama ini belum optimal. Menurutnya, sektor peternakan ayam petelur memang memiliki kontribusi besar dalam penyediaan protein hewani, namun juga menyisakan persoalan lingkungan yang serius.

“Seekor ayam petelur rata-rata menghasilkan sekitar 80 hingga 100 gram kotoran per hari. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat menimbulkan masalah lingkungan. Padahal, jika diolah secara tepat, dapat menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Agus Nugroho Setiawan menjelaskan bahwa limbah peternakan ayam terdiri dari limbah padat, cair, dan gas, dengan kotoran ayam sebagai komponen terbesar yang memiliki potensi tinggi untuk dimanfaatkan.

“Kotoran ayam memiliki kandungan unsur hara utama seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang lebih tinggi dibandingkan kotoran sapi. Selain itu, kandungan airnya juga membuatnya lebih mudah terurai dan cepat menyediakan nutrisi bagi tanaman,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pupuk dari kotoran ayam sangat cocok digunakan untuk tanaman berumur pendek seperti sayuran dan palawija, sehingga dapat mendukung kegiatan pertanian skala rumah tangga maupun kelompok.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian juga tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi turut menyerahkan bantuan peralatan berupa komposter yang dirancang lebih aplikatif. Alat ini memungkinkan pengolahan limbah menjadi pupuk organik padat maupun cair.

“Dengan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan alat yang diberikan, kami berharap limbah kotoran ayam dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi,” tambah Agus.

Dalam jangka pendek, pupuk organik hasil olahan diharapkan dapat digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya tanaman di KWT Bukle. Sementara dalam jangka panjang, produk pupuk tersebut berpotensi dikemas dan dipasarkan kepada masyarakat luas.

Ketua KWT Bukle, Dwi Prasetyo Ningsih, menyampaikan apresiasi atas kontribusi yang diberikan oleh tim dari UMY.

“Kami sangat berterima kasih atas pendampingan dan bantuan yang diberikan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anggota KWT dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa para anggota menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung, terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi saat sesi penyuluhan serta pelatihan penggunaan komposter.

Melalui program ini, diharapkan pengelolaan limbah kotoran ayam tidak hanya menjadi solusi atas permasalahan lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

 

 103 total views,  1 views today

Tinggalkan Balasan